JAKARTA – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan melontarkan kritik tajam terhadap zona nyaman stabilitas ekonomi Indonesia saat ini. Beliau memandang bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang hanya berkisar pada angka 5 hingga 6 persen bukanlah sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Menurut pandangan kritisnya, angka tersebut tidak akan cukup kuat untuk membawa Indonesia keluar dari bayang-bayang jebakan pendapatan menengah atau middle income trap sebelum tahun 2045.
Pemerintah kini harus mulai memacu mesin pertumbuhan dengan lebih agresif. Tanpa lompatan signifikan menuju angka 8 persen, aspirasi menjadi negara maju hanyalah sekadar wacana di atas kertas. Indonesia membutuhkan transformasi struktural yang tidak hanya mengandalkan konsumsi domestik, tetapi beralih sepenuhnya pada produktivitas yang didorong oleh aliran modal masuk yang berkualitas.
Urgensi Keluar dari Jebakan Pendapatan Menengah
Luhut menekankan bahwa sejarah ekonomi dunia menunjukkan banyak negara terjebak dalam pertumbuhan yang stagnan setelah mencapai level pendapatan menengah. Oleh karena itu, Indonesia memerlukan strategi yang melampaui kebiasaan lama (business as usual). Pertumbuhan yang tinggi menjadi syarat mutlak untuk menciptakan lapangan kerja yang luas serta meningkatkan pendapatan per kapita secara eksponensial dalam dua dekade mendatang.
- Peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pelatihan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri global.
- Akselerasi digitalisasi birokrasi guna memangkas biaya ekonomi tinggi dan praktik korupsi.
- Konsistensi kebijakan hilirisasi industri untuk memberikan nilai tambah maksimal pada komoditas mentah.
- Penguatan stabilitas makroekonomi guna membangun kepercayaan investor jangka panjang.
Investasi Sebagai Kunci Utama Akselerasi Ekonomi
Sektor investasi menempati posisi sentral dalam peta jalan ekonomi yang dirancang oleh Dewan Ekonomi Nasional. Pemerintah menyadari bahwa keterbatasan anggaran negara (APBN) tidak mungkin membiayai seluruh proyek infrastruktur dan pengembangan industri sendirian. Maka, menarik investasi asing langsung (FDI) menjadi sebuah keharusan demi menyuntikkan modal sekaligus transfer teknologi ke dalam ekosistem bisnis lokal.
Investasi yang masuk tidak boleh hanya berfokus pada sektor ekstraktif, melainkan harus mulai merambah ke sektor teknologi tinggi dan energi hijau. Transisi ini sejalan dengan komitmen global terhadap keberlanjutan, yang kini menjadi syarat utama bagi para pemodal internasional dalam menempatkan dana mereka. Sebagai referensi tambahan, laporan dari World Bank mengenai Middle Income Trap juga menegaskan bahwa inovasi adalah pembeda utama antara negara yang berhasil maju dan yang tetap tertinggal.
Analisis Strategis untuk Masa Depan Ekonomi Nasional
Untuk mencapai target pertumbuhan 8 persen, pemerintah perlu menyelaraskan kebijakan pusat dan daerah. Seringkali, hambatan investasi justru muncul dari regulasi di tingkat lokal yang tumpang tindih. Selain itu, optimalisasi sektor manufaktur harus menjadi prioritas utama untuk mengurangi ketergantungan pada impor barang modal. Perlu diingat bahwa keberhasilan pertumbuhan ekonomi di masa depan sangat bergantung pada bagaimana kita mengelola sektor manufaktur sebagai tulang punggung ekonomi nasional yang kuat.
Secara keseluruhan, pernyataan Luhut Pandjaitan merupakan peringatan keras bagi seluruh pemangku kepentingan. Ekonomi Indonesia berada di persimpangan jalan. Pilihan untuk tetap berada di angka 5 persen berarti membiarkan Indonesia menua sebelum menjadi kaya. Sebaliknya, mengejar target 8 persen melalui reformasi investasi dan efisiensi birokrasi akan membuka pintu gerbang menuju era Indonesia Emas 2045 dengan fondasi yang jauh lebih kokoh dan kompetitif di kancah global.

