KHOST – Pakistan meluncurkan serangkaian serangan udara lintas batas yang menyasar wilayah timur Afghanistan pada Senin pagi. Operasi militer ini secara spesifik menargetkan apa yang Islamabad sebut sebagai ‘kamp pelatihan dan persembunyian teroris’. Namun, otoritas setempat melaporkan bahwa serangan tersebut meluluhlantakkan pemukiman warga sipil dan merenggut puluhan nyawa, termasuk wanita dan anak-anak.
Eskalasi militer ini menandai titik terendah baru dalam hubungan antara dua negara tetangga tersebut. Pemerintah Pakistan mengklaim bahwa kelompok militan Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) menggunakan tanah Afghanistan sebagai basis untuk meluncurkan serangan ke dalam wilayah Pakistan. Meskipun demikian, pemerintah Taliban di Kabul membantah keras tuduhan tersebut dan menyebut tindakan Pakistan sebagai pelanggaran kedaulatan yang terang-terangan.
Kronologi dan Target Operasi Militer Pakistan
Pesawat tempur Pakistan memasuki ruang udara Afghanistan sekitar pukul 03.00 waktu setempat. Serangan terkonsentrasi di provinsi Khost dan Paktika, dua wilayah yang berbatasan langsung dengan Pakistan. Berikut adalah poin-poin utama terkait insiden tersebut:
- Serangan menyasar rumah-rumah di daerah pemukiman yang diduga menjadi tempat persembunyian anggota TTP.
- Otoritas kesehatan di Afghanistan mengonfirmasi sedikitnya puluhan warga sipil tewas dalam insiden tersebut.
- Militer Pakistan menegaskan bahwa operasi ini merupakan balasan atas serangan teroris yang menewaskan personel militer mereka beberapa hari sebelumnya.
- Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengeluarkan pernyataan keras yang memperingatkan Pakistan tentang konsekuensi berbahaya dari tindakan tersebut.
Kejadian tragis ini menambah daftar panjang bentrokan di sepanjang perbatasan yang telah berlangsung selama dekade terakhir. Laporan dari berbagai media internasional menyebutkan bahwa ketegangan ini berpotensi memicu perang terbuka jika kedua belah pihak tidak segera menahan diri.
Akar Konflik Antara Islamabad dan Kabul
Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan tidak muncul secara tiba-tiba. Sejak Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021, Islamabad berharap Kabul akan menindak kelompok militan yang menyerang Pakistan. Namun, realitanya justru sebaliknya. Frekuensi serangan teror di Pakistan meningkat drastis, dan pemerintah Pakistan merasa dikhianati oleh sekutu lama mereka. Konflik ini mengingatkan kita pada insiden penutupan perbatasan Torkham bulan lalu, yang menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas di kawasan tersebut.
Analisis Dampak Keamanan dan Hubungan Bilateral
Dampak dari serangan udara ini melampaui sekadar kerugian materi dan nyawa. Secara geopolitik, Pakistan sedang menempuh risiko besar dengan memprovokasi Taliban. Meskipun Pakistan memiliki keunggulan militer udara, Afghanistan memiliki pengalaman panjang dalam perang gerilya yang dapat menguras sumber daya Pakistan dalam jangka panjang. Para analis keamanan berpendapat bahwa serangan ini mungkin justru memperkuat dukungan domestik bagi TTP di wilayah perbatasan.
Selain itu, krisis kemanusiaan di Afghanistan akan semakin memburuk. Warga yang tinggal di sepanjang Garis Durand kini terjebak dalam baku tembak antara dua kekuatan yang keras kepala. Komunitas internasional perlu segera turun tangan untuk memfasilitasi dialog sebelum konflik ini meluas menjadi krisis regional yang melibatkan aktor-aktor lain di Asia Selatan. Penguatan diplomasi adalah satu-satunya jalan keluar yang masuk akal guna mencegah pertumpahan darah lebih lanjut di masa depan.

