JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan mendalam mengenai posisi strategis Indonesia dalam peta peradaban Islam global saat menghadiri silaturahmi bersama jajaran Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam pidatonya, Kepala Negara menegaskan bahwa dunia saat ini sedang melirik Indonesia sebagai model ideal keberagaman yang harmonis. Ia mengapresiasi karakter umat Islam di tanah air yang mampu mengedepankan dialog serta menjauhi praktik ujaran kebencian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Langkah ini selaras dengan visi pemerintah untuk memperkuat stabilitas domestik sebagai fondasi pembangunan jangka panjang. Prabowo mengingatkan bahwa tanpa persatuan yang kokoh, sebuah bangsa akan mudah goyah oleh intervensi maupun konflik internal. Oleh karena itu, ia meminta seluruh lapisan masyarakat untuk mulai menanggalkan perbedaan sentimen kelompok demi kepentingan keselamatan bangsa yang lebih besar.
Menghapus Perbedaan demi Keselamatan Bangsa
Presiden menekankan bahwa kompetisi politik merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, namun hal tersebut tidak boleh menyisakan dendam atau perpecahan yang berkepanjangan. Menurutnya, energi bangsa seharusnya fokus pada pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan rakyat daripada terjebak dalam debat yang memicu polarisasi. Keinginan ini memperkuat komitmen yang pernah disampaikan dalam pidato kenegaraan sebelumnya mengenai pentingnya kolaborasi lintas sektor.
- Menjadikan moderasi beragama sebagai pilar utama stabilitas nasional.
- Mendorong tokoh agama untuk aktif meredam potensi konflik di tingkat akar rumput.
- Memperkuat sinergi antara ulama dan umara dalam merumuskan kebijakan publik yang inklusif.
- Mengeliminasi narasi kebencian yang berpotensi memecah belah kedaulatan NKRI.
Indonesia sebagai Kiblat Islam Moderat di Kancah Global
Secara analitis, seruan Presiden Prabowo ini menunjukkan ambisi diplomasi religi Indonesia di panggung internasional. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi mediator perdamaian dunia. Karakter Islam yang damai dan toleran yang dipraktikkan masyarakat Indonesia merupakan ‘soft power’ yang tidak dimiliki oleh banyak negara lain di kawasan Timur Tengah sekalipun.
Umat Islam di Indonesia telah lama mempraktikkan konsep Wasathiyah atau jalan tengah. Prinsip inilah yang menurut Prabowo harus terus dipelihara agar Indonesia tetap menjadi mercusuar harapan bagi negara-negara yang masih bergelut dengan konflik berbasis agama. Upaya ini merupakan kelanjutan dari narasi besar pemerintah yang sebelumnya juga dibahas dalam artikel mengenai strategi penguatan ideologi Pancasila di era modern.
Peran Strategis MUI dalam Menjaga Harmonisasi
Majelis Ulama Indonesia memegang peranan kunci dalam menerjemahkan visi Presiden ke dalam tindakan nyata di tengah masyarakat. Sebagai wadah para ulama, MUI diharapkan mampu memberikan bimbingan yang menyejukkan dan edukatif bagi umat. Prabowo berharap MUI terus konsisten dalam mengawal moral bangsa serta menjadi benteng pertahanan dari ideologi radikal yang bertentangan dengan nilai luhur bangsa Indonesia.
Persatuan yang digagas bukan berarti menyeragamkan segala hal, melainkan menyatukan frekuensi dalam menjaga kedaulatan negara. Dengan menghilangkan ego sektoral, Indonesia optimis mampu menghadapi tantangan global seperti krisis pangan dan energi yang kini melanda dunia. Pesan penutup dari Presiden sangat jelas, yakni kesantunan dan kedamaian umat Islam Indonesia adalah aset berharga yang harus dijaga demi kelangsungan generasi mendatang.

