Prabowo Gandeng Arm Holdings di Inggris Demi Akselerasi Industri Semikonduktor Indonesia

Date:

LONDON – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melanjutkan rangkaian kunjungan kenegaraannya dengan bertolak menuju London, Inggris, guna memperkuat fondasi industri teknologi nasional. Dalam agenda strategis ini, Presiden menyaksikan langsung penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dengan raksasa arsitektur cip dunia, Arm Holdings. Langkah ini menandai pergeseran fokus diplomasi Indonesia yang kini menyasar sektor hulu teknologi digital, yakni pengembangan semikonduktor dan penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang teknik.

Kerja sama ini menjadi tindak lanjut krusial setelah kunjungan Presiden ke Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Pemerintah Indonesia tampak sangat serius memosisikan diri dalam rantai pasok global semikonduktor yang kini menjadi komoditas paling diperebutkan di dunia. Melalui Danantara, Indonesia berusaha menarik transfer teknologi serta investasi yang tidak hanya bersifat padat modal, tetapi juga padat ilmu pengetahuan.

Langkah Strategis Danantara di Panggung Global

Kemitraan dengan Arm Holdings bukan sekadar urusan bisnis biasa bagi Indonesia. Arm merupakan pemegang lisensi arsitektur prosesor yang digunakan oleh hampir semua ponsel pintar dan perangkat pintar di seluruh dunia. Dengan merangkul Arm, Danantara membuka pintu bagi inovasi lokal untuk berkembang di atas standar global yang sudah mapan. Perjanjian ini mencakup beberapa poin krusial yang akan diimplementasikan dalam waktu dekat.

  • Penyediaan lisensi desain semikonduktor bagi pengembang teknologi dalam negeri.
  • Pembentukan pusat riset dan inovasi bersama untuk aplikasi kecerdasan buatan (AI).
  • Fasilitasi investasi langsung dalam pembangunan ekosistem desain cip di Indonesia.
  • Integrasi teknologi Arm dalam proyek-proyek strategis infrastruktur digital nasional.

Kehadiran Danantara sebagai institusi baru pengelola investasi Indonesia menunjukkan komitmen pemerintah dalam menciptakan kendaraan finansial yang lincah. Institusi ini diharapkan mampu mengelola aset negara secara profesional sekaligus menjadi katalisator bagi masuknya pemain teknologi besar ke tanah air. Sinergi ini sekaligus menjadi bukti bahwa Indonesia sedang bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi pemain potensial dalam industri perangkat keras global.

Mencetak Insinyur Lokal Berstandar Dunia

Salah satu poin paling fundamental dalam kerja sama ini adalah program pelatihan intensif bagi para insinyur atau engineer asal Indonesia. Presiden Prabowo menekankan bahwa penguasaan teknologi hanya akan menjadi angan-angan tanpa adanya kedaulatan sumber daya manusia. Melalui kolaborasi dengan Arm, para talenta muda Indonesia akan mendapatkan akses langsung terhadap kurikulum dan praktik terbaik dalam desain sirkuit terpadu.

Pemerintah menargetkan ribuan tenaga ahli baru akan lahir dari program ini dalam beberapa tahun ke depan. Para ahli ini nantinya akan menjadi tulang punggung bagi rencana pembangunan pabrik pengemasan cip (chip packaging) dan desain yang sedang direncanakan di tanah air. Dengan memiliki tenaga kerja yang kompeten, Indonesia memiliki daya tawar yang jauh lebih kuat untuk menarik raksasa teknologi lainnya agar berinvestasi jangka panjang.

Analisis: Mengapa Semikonduktor Menjadi Kunci Kedaulatan Digital?

Secara kritis, langkah Presiden Prabowo ini merupakan respons terhadap ketidakpastian geopolitik global yang sering kali mengganggu distribusi komponen elektronik. Semikonduktor adalah ‘minyak baru’ di era digital. Tanpa penguasaan di sektor ini, industri otomotif, telekomunikasi, hingga alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia akan selalu bergantung pada pasokan luar negeri yang rentan terkena hambatan dagang.

Pilihan bermitra dengan perusahaan asal Inggris seperti Arm Holdings memberikan keuntungan strategis karena posisi mereka yang relatif netral di tengah perang dagang teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Indonesia perlu mempertahankan momentum ini dengan memastikan bahwa regulasi di dalam negeri mendukung ekosistem teknologi yang kompetitif. Keberhasilan MoA ini akan sangat bergantung pada eksekusi di lapangan dan konsistensi kebijakan pemerintah dalam mendukung riset dan pengembangan lokal.

Upaya ini selaras dengan visi hilirisasi yang tidak hanya terbatas pada komoditas tambang, tetapi juga merambah ke hilirisasi digital. Dengan menggabungkan kekuatan modal dari Danantara dan keunggulan teknis dari Arm, Indonesia sedang menyusun cetak biru untuk menjadi kekuatan ekonomi berbasis teknologi di Asia Tenggara. Masa depan ekonomi Indonesia kini tidak lagi hanya ditentukan oleh apa yang digali dari bumi, tetapi juga oleh apa yang mampu didesain dan diproduksi di atas meja laboratorium.

Share post:

Berlangganan

spot_imgspot_img

Populer

More like this
Related

Rob Jetten Mengukir Sejarah Sebagai Perdana Menteri Termuda Belanda

DEN HAAG - Dinamika politik Benua Biru kembali menorehkan...

Departemen Luar Negeri AS Keluarkan Peringatan Keamanan Darurat di Meksiko

Eskalasi Ancaman Keamanan di Wilayah MeksikoDepartemen Luar Negeri Amerika...

Penyebab Gempa Magnitudo 7,2 Sabah Malaysia yang Terasa Hingga Kalimantan Utara

Analisis BMKG Terkait Guncangan Hebat di Wilayah Utara SabahGuncangan...

Bocoran Fitur Samsung Galaxy S26 yang Bakal Guncang Pasar Smartphone Dunia

SEOUL - Samsung kembali bersiap menggebrak pasar teknologi global...