YERUSALEM – Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali menyulut api kontroversi setelah melakukan kunjungan mendadak ke kawasan sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. Kehadiran tokoh sayap kanan ini berlangsung pada Jumat pertama bulan suci Ramadan, sebuah momentum yang sangat sensitif bagi umat Muslim di seluruh dunia. Langkah Ben-Gvir ini memperkeruh suasana geopolitik di tengah kebijakan otoritas Israel yang memperketat akses bagi warga Palestina untuk beribadah di situs tersuci ketiga dalam Islam tersebut.
Sejumlah rekaman video menunjukkan Ben-Gvir berjalan di area tersebut dengan pengawalan ketat aparat keamanan. Tindakan ini memicu reaksi keras karena dianggap sebagai bentuk provokasi sengaja yang dapat merusak status quo Yerusalem. Pemerintah Israel sebelumnya memang telah mengumumkan serangkaian pembatasan bagi warga Tepi Barat yang ingin memasuki Masjid Al-Aqsa, dengan alasan keamanan nasional yang seringkali dianggap diskriminatif oleh pengamat internasional.
Eskalasi Pembatasan Ibadah di Yerusalem Timur
Kebijakan pembatasan yang menyertai kunjungan Ben-Gvir menciptakan hambatan fisik dan psikologis bagi warga Palestina. Pasukan keamanan Israel membangun barikade tambahan dan melakukan pemeriksaan identitas yang sangat ketat di gerbang-gerbang menuju Kota Tua. Kondisi ini membuat ribuan jemaah terpaksa melaksanakan salat di jalanan karena tidak mendapatkan izin masuk.
- Pembatasan usia bagi pria asal Tepi Barat yang diizinkan masuk ke area masjid.
- Peningkatan jumlah personel kepolisian bersenjata lengkap di titik-titik strategis Kota Tua.
- Penutupan beberapa akses jalan utama yang biasanya digunakan peziarah menuju kompleks Al-Haram Al-Sharif.
- Penerapan sistem izin digital yang sulit diakses oleh warga di wilayah pendudukan.
Situasi ini mengingatkan publik pada insiden serupa di tahun-tahun sebelumnya yang seringkali berujung pada bentrokan berdarah. Banyak analis menilai bahwa kehadiran Ben-Gvir bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan pernyataan politik untuk menegaskan dominasi Israel atas wilayah Yerusalem Timur yang secara hukum internasional berstatus wilayah pendudukan.
Dampak Diplomasi dan Kecaman Internasional
Dunia internasional memandang langkah Ben-Gvir sebagai ancaman nyata terhadap stabilitas kawasan. Negara-negara tetangga seperti Yordania dan Mesir secara tegas mengecam aksi tersebut dan memperingatkan konsekuensi berbahaya yang mungkin timbul. Mereka menekankan bahwa tindakan provokatif di Masjid Al-Aqsa melanggar hukum internasional dan melukai perasaan miliaran umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.
Sebagaimana diberitakan dalam analisis mengenai konflik berkepanjangan di Timur Tengah, setiap perubahan kecil dalam aksesibilitas Masjid Al-Aqsa selalu menjadi pemicu kerusuhan yang lebih besar. Komunitas internasional mendesak Israel untuk menghormati peran Yordania sebagai pemegang mandat resmi atas situs-situs suci di Yerusalem. Informasi lebih lanjut mengenai perkembangan status hukum Yerusalem dapat dipantau melalui laporan mendalam di Al Jazeera.
Analisis Geopolitik: Mengapa Al-Aqsa Selalu Menjadi Titik Didih?
Memahami signifikansi Masjid Al-Aqsa memerlukan perspektif yang melampaui sekadar isu agama. Secara politis, Al-Aqsa adalah simbol kedaulatan dan identitas nasional bagi rakyat Palestina. Ketika politisi seperti Ben-Gvir memasuki area tersebut, hal itu dianggap sebagai upaya sistematis untuk mengubah identitas kawasan secara demografis dan administratif. Strategi ini sering disebut oleh para ahli sebagai kebijakan ‘Yudaisasi’ Yerusalem.
Oleh karena itu, tindakan Ben-Gvir ini tidak berdiri sendiri. Ia mencerminkan pergeseran ideologi di dalam kabinet Israel yang semakin bergeser ke arah sayap kanan ekstrem. Penggunaan instrumen keamanan untuk membatasi hak ibadah adalah taktik yang sering kali menghasilkan efek bumerang, yaitu meningkatnya radikalisme dan perlawanan rakyat. Jika pemerintah Israel tidak segera meredam aksi-aksi provokatif dari pejabat internalnya, maka stabilitas yang rapuh di Timur Tengah dipastikan akan runtuh dalam waktu dekat.
Kesimpulannya, awal Ramadan tahun ini menjadi ujian berat bagi perdamaian di Yerusalem. Kehadiran Ben-Gvir bukan hanya tentang sebuah kunjungan, melainkan tentang bagaimana kekuasaan dimainkan di atas tanah yang diperebutkan. Seluruh mata dunia kini tertuju pada Yerusalem, menanti apakah akal sehat akan menang ataukah ego politik akan kembali menumpahkan darah di tanah suci.

