Viral Ayah di Tiongkok Tendang Pintu Kamar Anak Gara-Gara Gunakan Tisu untuk Keringkan Rambut

Date:

TIONGKOK – Media sosial baru-baru ini dikejutkan oleh unggahan video yang memperlihatkan tindakan emosional seorang ayah di Tiongkok. Pria tersebut meluapkan kemarahan luar biasa hingga merusak properti rumah dan menendang pintu kamar putrinya dengan keras. Pemicu dari aksi agresif ini tergolong sangat sepele, yakni dugaan sang anak menggunakan tisu wajah untuk mengeringkan rambutnya, alih-alih menggunakan handuk seperti yang seharusnya dilakukan.

Kejadian ini segera menarik perhatian jutaan netizen global dan memicu perdebatan sengit mengenai metode pengasuhan anak di era modern. Dalam rekaman tersebut, terlihat sang ayah kehilangan kendali diri sepenuhnya. Ia berteriak histeris sambil memprotes penggunaan tisu yang ia anggap sebagai pemborosan yang tidak perlu. Ketegangan meningkat saat pria tersebut mulai menendang pintu kayu kamar anaknya hingga mengalami kerusakan fisik yang cukup parah.

Kronologi Kejadian dan Reaksi Publik di Media Sosial

Berdasarkan informasi yang beredar di platform Weibo, insiden ini bermula saat sang ayah mendapati tumpukan tisu basah di meja rias anaknya. Tanpa menanyakan alasan terlebih dahulu, ia langsung meluapkan emosi meledak-ledak. Sang putri, yang berada di dalam kamar, terdengar menangis ketakutan menghadapi amukan orang tuanya tersebut. Berikut adalah beberapa poin utama yang menjadi sorotan netizen:

  • Reaksi yang sangat tidak proporsional terhadap masalah kecil terkait penggunaan tisu.
  • Kerusakan barang fisik yang menunjukkan kegagalan manajemen emosi pada orang dewasa.
  • Trauma psikologis yang membekas pada anak akibat kekerasan verbal dan fisik di lingkungan rumah.
  • Perdebatan mengenai budaya hemat yang ekstrem di sebagian keluarga tradisional Tiongkok.

Banyak warga net mengecam tindakan tersebut dan menganggapnya sebagai bentuk pelecehan emosional. Kasus ini mengingatkan publik pada insiden serupa tahun lalu di mana pola asuh otoriter memicu konflik keluarga yang berakhir tragis. Hubungan antara ketegangan ekonomi dan tekanan mental seringkali menjadi akar masalah dari ledakan emosi yang tidak terkendali seperti ini.

Dampak Psikologis Pola Asuh Otoriter terhadap Anak

Pakar psikologi menilai bahwa tindakan kekerasan di depan anak, meskipun tidak menyentuh fisik anak secara langsung, tetap memberikan dampak jangka panjang yang destruktif. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh ancaman cenderung mengembangkan kecemasan berlebih, rendah diri, hingga kesulitan dalam meregulasi emosi mereka sendiri di masa depan. Perilaku sang ayah mencerminkan gaya pengasuhan toksik yang memprioritaskan kepatuhan buta di atas komunikasi yang sehat.

Selain itu, tindakan merusak barang atau menendang pintu merupakan sinyal bahwa individu tersebut membutuhkan bantuan profesional dalam mengelola amarah (anger management). Ketidakmampuan untuk berdiskusi dengan tenang mengenai efisiensi penggunaan barang rumah tangga menunjukkan adanya masalah komunikasi yang mendalam di dalam struktur keluarga tersebut.

Panduan Mengelola Emosi dan Membangun Komunikasi Keluarga yang Sehat

Menghadapi perilaku anak yang mungkin kurang tepat, orang tua seharusnya mengedepankan dialog daripada intimidasi. Artikel ini memberikan panduan praktis agar kejadian serupa tidak terulang dalam keluarga Anda:

  • Berhenti dan Ambil Napas: Sebelum merespons kesalahan anak, berikan waktu 10 detik untuk menenangkan detak jantung Anda.
  • Gunakan Komunikasi Asertif: Jelaskan mengapa penggunaan tisu untuk rambut kurang efektif tanpa harus membentak.
  • Fokus pada Solusi: Alihkan perhatian pada cara yang benar (mengambil handuk) daripada terus menghujat kesalahan yang sudah terjadi.
  • Sadari Peran sebagai Role Model: Anak meniru cara orang tua menyelesaikan masalah. Jika Anda menyelesaikan masalah dengan menendang pintu, anak akan menganggap itu sebagai hal yang normal.

Untuk memahami lebih lanjut mengenai hak anak dan perlindungan terhadap kekerasan domestik, Anda dapat merujuk pada pedoman internasional dari UNICEF mengenai kekerasan terhadap anak. Sangat penting bagi masyarakat untuk melaporkan jika melihat adanya indikasi kekerasan sistematis di lingkungan sekitar demi menjaga tumbuh kembang generasi mendatang yang lebih sehat secara mental.

Kasus ayah yang mengamuk gara-gara tisu ini menjadi pengingat pahit bahwa rumah seharusnya menjadi tempat paling aman, bukan tempat yang mencekam. Edukasi mengenai kesehatan mental bagi orang tua perlu terus digalakkan agar rantai kekerasan emosional dalam keluarga dapat diputus sepenuhnya.

Share post:

Berlangganan

spot_imgspot_img

Populer

More like this
Related

Indonesia Emban Peran Wakil Komandan ISF dan Siapkan 8 Ribu Personel TNI ke Gaza

JAKARTA - Pemerintah Indonesia mempertegas komitmennya dalam mendukung stabilitas...

WNA Protes Suara Tadarus di Gili Trawangan PBNU Desak Pemerintah Daerah Atur Penggunaan Speaker Masjid

Duduk Perkara Protes WNA di Gili TrawanganInsiden kemarahan seorang...

Inggris Belum Restui AS Gunakan Pangkalan Militer untuk Serang Iran

LONDON - Pemerintah Inggris secara tegas belum memberikan restu...

Justin Hubner Tampil Solid Bawa Fortuna Sittard Tundukkan Excelsior

SITTARD - Justin Hubner menunjukkan kualitas kepemimpinannya di lini...